Tampilkan postingan dengan label Seputar Edukasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seputar Edukasi. Tampilkan semua postingan

Bagaimana Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa

Filsuf dan reformis pendidikan John Dewey terkenal karena menciptakan istilah berpikir kritis . Keyakinannya terhadap konsep ini berakar pada apa yang dia sebut sebagai pemikiran reflektif. Seiring dengan perkembangan zaman, begitu pula definisi keterampilan ini, yang dianggap paling penting dalam kesuksesan pribadi dan profesional.

Bagaimana Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa

Dictionary.com mendefinisikan pemikiran kritis sebagai "Pemikiran disiplin yang jelas, rasional, berpikiran terbuka, dan diinformasikan oleh bukti."

Sekarang setelah kita memahami konsep ini, mari kita tentukan berbagai strategi yang dapat digunakan guru untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis di antara siswa.

Menanyakan pertanyaan

Disiplin utama untuk berpikir kritis adalah penyelidikan, atau mengajukan pertanyaan. Saat tumbuh dewasa, anak-anak sering kali diberi tahu bahwa "tidak ada pertanyaan bodoh". Untuk sebagian besar orang, masih menghormati pernyataan ini sebagai kebenaran universal, dan pernyataan yang sering ingatkan kepada siswa kita setiap hari. 

Ketika siswa mundur dan menahan diri dari mengajukan pertanyaan, mereka dipandang sebagai pembelajar pasif. Apalagi, para guru tidak memiliki pemahaman tentang ilmunya. Akibatnya, untuk mengaktifkan keterampilan bertanya, guru harus melakukan yang terbaik: Model. Ketika siswa melihat kekuatan mengajukan pertanyaan , mereka akan merasa lebih cenderung untuk mengikutinya.

Guru harus merumuskan pertanyaan terbuka yang tidak memiliki jawaban benar atau salah. Siswa juga harus memahami bahwa komponen utama dalam mengajukan pertanyaan adalah menyimak. Mendengarkan secara aktif dan obyektif dari perspektif orang lain adalah yang dirangkum oleh inkuiri. Guru harus mengingatkan siswa untuk mendengarkan untuk memahami, bukan menanggapi. Membuat catatan selama pertukaran ini sangat dianjurkan.

Berpikir Mandiri

Pemikiran mandiri terdiri dari dua komponen: Refleksi dan penelitian.

Setelah siswa berlatih mendengarkan secara aktif, waktu untuk memproses informasi yang telah mereka kumpulkan menjadi penting. Melakukan percakapan atau mencatat tidak ada gunanya jika siswa tidak diberi waktu untuk merenungkan apa yang telah mereka terima. Mereka juga harus merefleksikan perspektif atau analisis situasi mereka sendiri.

Siswa mungkin kesulitan merumuskan pendapat mereka sendiri dan tidak boleh didorong untuk mengambil pandangan orang lain sebagai "Jadilah semua, akhiri semua." Inilah sebabnya mengapa penelitian juga merupakan ciri dari berpikir mandiri

Apakah siswa menemukan artikel, fakta Google, berkolaborasi dengan kelompok orang tambahan, dan / atau mengeluarkan buku, siswa harus memberikan bukti untuk mendukung alasan mereka. Mendukung perspektif sendiri berasal dari mendengarkan secara aktif, meneliti, dan kemudian merefleksikan perspektif orang lain bersama dengan perspektifnya sendiri

Perluas Peluang Belajar

Ada berbagai aktivitas yang dapat dilakukan guru untuk mendorong pemikiran kritis. Salah satu contoh yang sederhana, dan dapat dilihat sebagai kegiatan pemecah es untuk meningkatkan keterampilan ini, adalah tes penjepit kertas. Kegiatan ini mengajak siswa untuk memikirkan klip kertas terlebih dahulu dan mencatat penggunaannya. Setelah itu, siswa dapat dipasangkan, dikelompokkan, atau bekerja secara individu untuk kemudian mempertimbangkan cara-cara kreatif di mana klip kertas dapat digunakan.

Pembelajaran berbasis proyek adalah cara lain untuk memperkuat keterampilan berpikir kritis. Ini memungkinkan siswa untuk mengeksplorasi dan mengeksekusi. Ketika siswa dapat melihat apa yang telah mereka buat, mereka merasa memiliki atas pembelajaran mereka dan bangga dengan pekerjaan mereka. Kreativitas adalah kunci dalam pembelajaran berbasis proyek.

Pemahaman klasik lainnya yang perlu dipertimbangkan pendidik adalah memungkinkan siswa bergulat. Jangan berikan solusi kepada mereka; biarkan mereka membuat sendiri. Kreasi / kreativitas / kreasi adalah kuncinya. Ketika siswa didorong untuk berpikir di luar batasan perasaan, kebutuhan, atau keyakinan mereka sendiri, mereka mampu menganalisis secara kritis dengan lebih baik.

logoblog

10 Strategi Pengajaran untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi pada Siswa

Salah satu komponen utama abad ke-21 yang guru ingin siswanya gunakan adalah pemikiran tingkat tinggi. Ini adalah saat siswa menggunakan cara-cara kompleks untuk memikirkan tentang apa yang mereka pelajari.

10 Strategi Pengajaran untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi pada Siswa

Pemikiran tingkat tinggi membawa pemikiran ke tingkat yang sama sekali baru. Siswa yang menggunakannya memahami tingkat yang lebih tinggi daripada hanya menghafal fakta. Mereka harus memahami fakta, menyimpulkan, dan menghubungkannya dengan konsep lain.

Berikut adalah 10 strategi pengajaran untuk meningkatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi pada siswa Anda.

1. Membantu Menentukan Bagaimana Pemikiran Tingkat Tinggi itu

Bantulah siswa memahami apa itu pemikiran tingkat tinggi . Jelaskan kepada mereka apa itu dan mengapa mereka membutuhkannya. Bantulah mereka memahami kekuatan dan tantangan mereka sendiri. Anda dapat melakukan ini dengan menunjukkan kepada mereka bagaimana mereka dapat mengajukan pertanyaan yang bagus kepada diri sendiri. Itu membawa kita ke strategi selanjutnya.

2. Hubungkan Konsep

Pimpin siswa melalui proses bagaimana menghubungkan satu konsep dengan konsep lainnya. Dengan melakukan ini, Anda mengajar mereka untuk menghubungkan apa yang sudah mereka ketahui dengan apa yang mereka pelajari. Tingkat pemikiran ini akan membantu siswa belajar membuat koneksi kapan pun memungkinkan, yang akan membantu mereka mendapatkan lebih banyak pemahaman. Misalnya, konsep yang mereka pelajari adalah "Tahun Baru China". Konsep yang lebih luas lagi adalah "Liburan".

3. Latih Siswa untuk Menyimpulkan

Ajari siswa untuk membuat kesimpulan dengan memberi mereka contoh "dunia nyata". Anda dapat memulai dengan memberikan gambar kepada siswa tentang orang-orang yang sedang mengantri di dapur umum. Minta mereka untuk melihat gambar dan fokus pada detailnya. Kemudian, mintalah mereka membuat kesimpulan berdasarkan apa yang mereka lihat dalam gambar. 

Cara lain untuk mengajar siswa muda tentang bagaimana menyimpulkan adalah dengan mengajarkan konsep yang mudah seperti cuaca. Mintalah siswa untuk mengenakan jas hujan dan sepatu bot mereka, kemudian minta mereka untuk menyimpulkan menurut mereka seperti apa cuaca di luar.

4. Dorong Siswa untuk Bertanya

Ruang kelas tempat siswa merasa bebas untuk mengajukan pertanyaan tanpa reaksi negatif dari teman atau guru mereka adalah ruang kelas tempat siswa merasa bebas untuk berkreasi. Imbaulah siswa untuk mengajukan pertanyaan, dan jika karena alasan tertentu Anda tidak dapat menjawab pertanyaan mereka selama di kelas, tunjukkan kepada mereka bagaimana mereka dapat menjawabnya sendiri atau minta mereka menyimpan pertanyaan tersebut hingga hari berikutnya.

5. Gunakan Graphic Organizers

Penyelenggara grafis memberi siswa cara yang bagus untuk membingkai pemikiran mereka secara terorganisir. Dengan menggambar diagram atau peta pikiran, siswa dapat lebih menghubungkan konsep dan melihat hubungan mereka. Ini akan membantu siswa mengembangkan kebiasaan menghubungkan konsep.

6. Ajarkan Strategi Pemecahan Masalah

Ajari siswa untuk menggunakan metode langkah demi langkah untuk memecahkan masalah. Cara berpikir tingkat tinggi ini akan membantu mereka memecahkan masalah dengan lebih cepat dan lebih mudah. Dorong siswa untuk menggunakan metode alternatif untuk memecahkan masalah serta menawarkan mereka metode pemecahan masalah yang berbeda.

7. Mendorong Berpikir Kreatif

Berpikir kreatif adalah ketika siswa menemukan, membayangkan, dan merancang apa yang mereka pikirkan. Menggunakan indra kreatif membantu siswa memproses dan memahami informasi dengan lebih baik. Penelitian menunjukkan bahwa ketika siswa menggunakan keterampilan berpikir tingkat tinggi yang kreatif , hal itu meningkatkan pemahaman mereka. Imbaulah siswa untuk berpikir “di luar kepala”.

8. Gunakan Alam Pikiran

Ketika konsep yang sedang dipelajari sulit, dorong siswa untuk membuat film dalam pikiran mereka. Ajari mereka untuk menutup mata dan membayangkannya seperti pemutaran film. Cara berpikir tingkat tinggi ini akan benar-benar membantu mereka memahami dengan cara yang kuat dan unik.

9. Ajarkan Siswa untuk Menguraikan Jawaban Mereka

Pemikiran tingkat tinggi menuntut siswa untuk benar-benar memahami suatu konsep, bukan mengulang atau menghafalnya. Imbaulah siswa untuk menguraikan jawaban mereka dengan mengajukan pertanyaan yang tepat yang membuat siswa menjelaskan pemikiran mereka secara lebih rinci.

10. Latih siswa dengan QARs

Question-Answer-Relationships, atau QARs, mengajarkan siswa untuk memberi label jenis pertanyaan yang ditanyakan dan kemudian menggunakan informasi tersebut untuk membantu mereka merumuskan jawaban. Siswa harus menguraikan apakah jawabannya dapat ditemukan dalam teks atau online atau jika mereka harus mengandalkan pengetahuan mereka sendiri sebelumnya untuk menjawabnya. 

Strategi ini terbukti efektif untuk pemikiran tingkat tinggi karena siswa menjadi lebih sadar akan hubungan antara informasi dalam teks dan pengetahuan mereka sebelumnya, yang membantu mereka menguraikan strategi mana yang akan digunakan ketika mereka perlu mencari jawaban.

logoblog

Berbicara dengan Siswa tentang COVID-19

Sekolah-sekolah di berbagai belahan dunia telah mengambil langkah-langkah tertentu sebagai tanggapan terhadap penyebaran Coronavirus (COVID-19) untuk menjaga siswa, tenaga pendidik dan kependidikan supaya tetap aman. Meskipun langkah-langkah ini tentu saja perlu, juga mungkin dapat meresahkan bagi siswa yang tidak tahu persis apa yang terjadi utamanya siswa SD, SMP termasuk juga SMA melihat perubahan yang terjadi. Pendidik dan tenaga kependidikan dapat melakukan berbagai hal untuk mengurangi rasa takut dan memberi tahu siswa tentang fakta-fakta sesuai tingkat perkembangan anak.

Berbicara dengan Siswa tentang COVID-19








Berikan Informasi Yang Akurat dengan Sikap yang Tenang dan Meyakinkan

Orang dewasa lebih banyak mendengar dan memahami informasi, dari berbagai informasi bisa saja menyesatkan dan membingunkan. Sudah menjadi sifat manusia untuk kemudian berbagi pesan dan mendiskusikan keprihatinannya. Namun informasi atau pemahaman yang tidak benar atau hanya sekadar untuk menenangkan, ini tidak boleh terjadi di hadapan siswa, terutama mereka yang mungkin tidak dapat sepenuhnya memisahkan antara fakta dan pendapat.

Ketika berbicara tentang COVID-19 di hadapan siswa, penting untuk memberikan informasi yang akurat, dengan cara yang dapat dimengerti oleh mereka. Penting juga untuk menanpilkan diri dengan teanang dan meyakinkan, bahkan  secara pribadi memiliki masalah pada subjek. Siswa dari berbagai usia akan menyedot banyak energi dari guru mereka karena pentingnya hal ini. Jika seorang guru tampak stres dan cemas, maka siswa akan sering bereaksi dengan cara yang sama. Namun akan terjadi sebaliknya jika guru itu tampak rasional dan damai.

Tidak bermasalah untuk memberitahu siswa sekolah menengah bahwa epidemi ini adalah untaian baru dari virus yang telah ada selama hampir 60 tahun. Siswa yang lebih tua akan dapat memahami bagaimana untaian baru dapat berkembang dan perlu waktu untuk membangun kekebalan, menemukan obat, dan membuat vaksin. Pelajaran sejarah yang baik dapat mengurangi ketakutan mereka karena umat manusia telah mengatasi masalah medis sebelumnya seperti polio dan menemukan obat-obatan seperti penisilin melalui uji coba serupa di masa lalu.

Hindari Menggunakan Bahasa yang Menyalahkan Orang Lain atau Mengarah pada Stigma

Terlepas dari usia para siswa, saat ini bukan waktunya untuk berbagi pandangan politik atau menyalahkan mereka yang dipercaya untuk bertanggung jawab atas pandemi ini. Menyampaikan pesan positif terhadap siswa adalah yang terbaik, misalnya mengingatkan siswa bahwa ada ilmuwan di dunia yang saat ini sementara berusaha menemukan vaksin dan obat-obatan untuk membantu.

Adakan Dialog Terbuka

Berikan siswa waktu untuk mengajukan pertanyaan, berbagi keprihatinan, dan menyampaikan hal-hal yang telah mereka dengar untuk membantu memvalidasi perasaan mereka dan mengurangi ketakutan mereka. Saat ini adalah waktu untuk jujur tetapi terbatas dalam informasi. Bersiaplah untuk menjawab pertanyaan dengan fakta, dan pastikan untuk menyampaikan jawaban sesuai dengan usia. Ketika siswa membagikan hal-hal yang telah mereka dengar, penting untuk mengoreksi informasi yang salah dengan cara yang meyakinkan. Untuk mendapatkan informasi terbaru, para guru dan siswa dapat mengunjungi situs web Pusat Pengendalian Penyakit.

Demikian juga, jika siswa mengetahui seseorang yang telah tertular virus, yang terbaik adalah meyakinkan bahwa para medis dapat memberikan dukungan dan karantina yang dapat membantu menghentikan penyebaran virus. Jangan merinci tentang tingkat kematian anak saat ini. Jika siswa bertanya tentang kemungkinan kematian, beri penekanan pada peluang pemulihan dan biarkan orang tuanya  masuk lebih dalam ke dalam percakapan yang lebih dalam.

Ini adalah waktu yang tepat untuk mengajarkan tentang kesehatan dan penyakit menular dan bagaimana mereka menyebar. Biarkan siswa mengambil bagian dalam percobaan yang menunjukkan bagaimana kuman disebarkan dari orang ke orang dan menyaksikan bagaimana kuman menyebar ke seluruh ruangan ketika seorang menyentuh berbagai barang.

Ini juga merupakan saat yang tepat untuk berbicara tentang kebiasaan sehat lainnya seperti makan makanan seimbang dan berolahraga dan istirahat yang cukup untuk memulihkan tubuh. Bagikan kepada siswa bahwa ini adalah cara-cara penting untuk membantu tubuh mempersiapkan diri menghadapi penyakit sehingga dapat pulih lebih cepat dan tidak terlalu terpengaruh oleh segala jenis penyakit. Gunakan waktu ini untuk fokus pada apa yang benar-benar penting, seperti kebersihan yang baik dan tindakan pencegahan.

Pesan untuk Siswa Ketika Sekolah Diliburkan

Menghadapi penyebaran COVID-19 siswa diliburkan belajar dirumah dalam upaya memberikan alternatif yang lebih aman daripada berkumpul di ruang kelas. Ini adalah waktu untuk meyakinkan siswa bahwa beberapa hal akan berbeda untuk sementara waktu, dan akan kembali normal. Berikan kegiatan yang menyenangkan dan menarik yang bisa mereka lakukan di rumah untuk tetap sibuk dan menjadi kreatif.

Himbau siswa untuk memanfaatkan situs pendidikan gratis yang membantu mereka mempertajam keterampilan mereka saat mereka berada di rumah. Ingat guru ada di sana untuk mendidik dan memberikan fakta. Tetap terhubung melalui situs online yang digunakan oleh sekolah, dan terus berbagi pesan positif dan tenang untuk meyakinkan siswa dalam waktu yang tidak biasa ini.

logoblog

Persaingan Manusia dengan Mesin di Era 4.0

Era 4.0 akan mengubah struktur dan lapangan pekerjaan. Sejumlah pekerjaan akan tergantikan mesin. Namun, kemampuan analitik nonrutin dan interaktif nonrutin tidak akan tergantikan mesin. Konsep otomatisasi dalam Revolusi Industri 4.0 akan mengubah struktur dan lapangan pekerjaan, sekitar 50 persen aktivitas manusia dalam pekerjaan global bisa digantikan mesin.



Pekerjaan yang paling rentan diganti otomasi ialah pekerjaan yang mengandalkan aktivitas fisik berulang dan pengolah data. Sedangkan pekerjaan yang sulit diotomasi di antaranya manajerial yang membutuhkan keahlian spesifik dan interaksi dengan para pihak.

Secara lebih rinci,  10 jenis pekerjaan yang akan segera punah karena tergantikan oleh mesin, algoritma, komputer, roboy, perangkat lunak, dan aplikasi. Jenis-jenis pekerjaan tersebut adalah telemarketer, pegawai persiapan pajak, penilai asuransi, wasit dan petugas official olahraga lainnya; sekretaris hukum, pegawai hotel, restoran, kafe, broker perumahan, buruh tani, sekretaris dan pegawai administrasi serta kurir dan pesuruh. ( Klaus Schwab:The Fourth Industrial Revolusion) 

Lebih lanjut dikatakan Schwab mencantumkan 10 jenis pekerjaan yang tidak akan tergantikan proses otomasi. Jenis-jenis pekerjaan tersebut meliputi pekerja sosial untuk kesehatan mental dan penyalahgunaan obat-obatan; obat-obatan; koreografer; dokter dan ahli bedah; psikolog;manajer SDM; analis sistem komputer, antropolog dan arkeolog; insinyur kelautan dan arsitek angkatan laut; manajer pemasaran; serta pejabat eksekutif tertinggi perusahaan (CEO)

Pekerjaan-pekerjaan tersebut tidak hilang karena menggunakan kemampuan berpikir manusia. Ada satu kemampuan yang tidak akan hilang atau tergantikan proses otomasi, yaitu analitik nonrutin dan interaktif nonrutin. Kemampuan berpikir kritis dibutuhkan untuk menyelesaikan permasalahan yang kompleks, bukan sekadar menghapal dan melihat/membuka manual.

Banyak jenis pekerjaan kedepan yang tidak ada manual atau pedomannya karena kompleksitas pekerjaan tersebut. Perkembangan teknologi komputasi yang sangat cepat ternyata tidak membuat hidup kita lebih mudah, bahkan menjadi lebih kompleks dan membutuhkan kecakapan khusus untuk menanganinya (Satryo/Kompas/27/01/2020).

Namun, jika menilik kondisi di Indonesia, sebagaian besar atau 50,4 persen pekerja berpendidikan sekolah dasar ke bawah (BPS.2019). Demikian pula jika melihat statistik Pemuda Indonesia 2019, sebanyak 48,04 persen pemuda (usia 16-30 tahun) berpendidikan SMP ke bawah. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa daya saing tenaga kerja Indonesia masih rendah. Mereka yang berpendidikan tinggi pun belum tentu sesuai antara pendidikan dan pekerjaannya.

Proyeksi pada 2030, Indonesia membutuhkan 113 juta tenaga kerja terampil. Saat ini yang tersedia baru sekitar 57 juta orang. Berbagai pelatihan dibutuhkan agar tenaga kerja Indonesia, terutama yang berpendidikan rendah, memiliki keterampilan yang dibutuhkan pada era 4.0.

Lebih dari itu, pola pendidikan harus diubah dari yang menekankan hafalan menjadi pemelajaran yang mendorong dan menumbuhkan kemampuan berpikir kritis. Bahkan, lebih dari itu, pemelajaran yang dapat meningkatkan keterampilan sosial peserta didik.

Di Amerika Serikat kecenderungan pola perekrutan pekerja pasca 1980 yang direkrut adalah mereka yang mempunyai keterampilan sosial yang tinggi, yaitu kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif dan bekerja sama dengan orang lain. (The Economist edisi 14 Januari 2017 dalam Kompas id).

Manusia yang berkualitas dan berdaya saing tinggi tidak hanya berpendidikan, tetapi juga berkarakter, mampu bekerja sama, dan berkolaborasi. Kemampuan di luar akademis dan teknis tersebut sangat menentukan untuk berkompetisi dengan mesin di era 4.0 ini. Kemampuan tersebut juga sangat dibutuhkan jika ingin mengoptimalkan 27 - 46  juta lapangan pekerjaan baru yang bisa diciptakan dalam proses otomasi pada 2030

logoblog

Apa Itu Literasi Digital ?

"Literasi digital" adalah salah satu teknologi didalam kata kunci kelas yang dipaparkan oleh para ahli sebagai rincian bagi siswa abad ke-21. Itu ada dimana-mana, dan sering diucapkan  oleh orang, tetapi mencari tau apa artinya bisa tidak mudah. "Literasi" secara sederhana dapat diartikan sebagai: Kemampuan membaca dan menulis jadi "literasi digital" harus mencapai tujuan tersebut menggunakan teknologi di ruang kelas.


Apa Itu Literasi Digital ?

Pengertiannya tidak sesederhana itu, berikut ada beberapa definisi literasi digital yang bisa jadi rujukan: 

"Kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai format dari berbagai sumber ketika disajikan melalui komputer"-Paul Glister, Digital Literacy.

"Kemampuan untuk menemukan, mengevaluasi, memanfaatkan, berbagi, dan membuat konten menggunakan teknologi informasi dan internet."- University Cornell.

"Kemampuan seseorang untuk melakukan tugas secara efektif dalam lingkungan digital... termasuk kemampuan membaca dan menafsirkan media, untuk memproduksi data dan gambar melalui manipulasi digital, dan untuk mengevaluasi dan menerapkan pengetahuan baru yang diperoleh dari lingkungan digital."- 


"Kemampuan untuk menggunakan teknologi digital, alat komunikasi atau jaringan untuk menemukan, mengevaluasi, menggunakan dan membuat informasi."

Secara filosofis, ini semua adalah definisi yang baik, tetapi setelah lima belas tahun kemudian istilah "literasi digital" jauh lebih rumit terutama ketika berbicara tentang siswa yang telah dipengaruhi oleh gadget seperti iPad dan smartphone.

Berikut beberapa teknologi transformatif yang dapat digunakan dalam keterampilan kelas yang dibutuhkan siswa ketika sudah melek digital :

Media Sosial

Kekuatan media sosial tidak dapat disangkal. Meskipun penggunaannya terus menjadi kontroversial di beberapa kalangan, termasuk pendidikan, kedekatan dan jangkauannya sulit dikalahkan sebagai alat komunikasi. Sebagaian besar siswa menyadari manfaat media sosial. Sekaran tugas kita untuk memanfaatkannya dengan membekali siswa dengan pengetahuian yang tepat untuk menggunakannya dengan benar.

Komputasi awan

Terkadang tugas di kelas  diselesaikan di rumah. Situasi ini membutuhkan peralihan yang baik dari peralatan misalnya  Chromebook di kelas dan PC pribadi siswa dirumah. Komputasi awan membuat semua ini bisa terjadi. Ini dapat diakses dimana saja dengan internet atau wifi, di perangkat apa pun, oleh siapapun yang diberikan akses. Siswa perlu memahami cara kerja cloud atau komputasi awan.

Teknologi Dasar yang dibutuhkan Kelas 

Literasi digital menyiratkan keterampilan membaca-menulis yang sama, tetapi tampa kertas, pensil, buku, atau kuliah. Ini dibangun dengan tujuan dan didorong oleh siswa.  Sebagai seorang guru maka akan memberikan hal berikut:

  • Perangkat digital seperti laptop, iPad, Chomebook, atau desktop, untuk penggunaan sehari hari
  • Kelender kelas digital dengan tanggal jatuh tempo, aktivitas, dan acara lainnya
  • Email siswa atau beberapa metode komunikasi cepat dengan siswa di luar kelas. Ini bisa berupa media pesan seperti twitter atau forum khusus.
  • Halaman awal internet kelas untuk membuat situs wev, widget, dan alat digital lainnya yang digunakan untuk belajar
  • Perangkat backchannel untuk menilai pembelajaran siswa saat sedang berlangsung google Apps.
  • Situs web atau blog kelas untuk berbagi kegiatan kelas dengan orang tua dan pemangku kepentingan lainnya.
  • Portofolio digital siswa untuk membuat dan mengumpulkan karya siswa untuk dilihat dan dibagikan
Database Digital

Perpustakaan fisik sering tidak bisa diakses ketika dibutuhkan. Ditambah lagi, koleksi sumber daya yang dimiliki terbatas. Database digital adalah perpustakaan yang tak terbatas, dapat diakses oleh pengunjung dimana saja dan kapang saja.  Para siswa harus belajar bagaimana menjelajahi ruang-ruang virtual ketika beraktivitas di ruang kelas.Ini termasuk akses online ke perpustakaan sekolah.

Kolaborasi Virtual

Kelompok belajar siswa secara manual harus ada waktu, tempat, dan jadwal untuk pertemuan. Kolaborasi virtual tidak membutuhkan hal tersebut. Dokumen bisa dibagikan dengan semua pemangku kepentingan dan diakses sesuka hati. Banyak alat digital seperti google Apps memungkinkan siswa untuk berkolaborasi pada dokumen dari perangkat pribadi yang terpisah.

Diskusi dapat berlangsung di kamar tidur siswa atau halaman belakang rumah, melalui situs virtual. Berbagai macam materi atau sumber lainnya dapat dibagikan tanpa membawa sekumpulan materi ke ruang pertemuan. Kegiatan ini dapat direkam dan dibagikan dengan anggota yang tidak hadir atau diulang untuk ditinjau.

Berbagi untuk Membangun Pengetahuan

Tidak seorang pun dapat memberikan semua yang perlu kita ketahui tentang suatu masalah. Ketika orang berbagi pengetahuan dan wawasan mereka, maka kelompok akan tumbuh dalam kompetensi. Sekarang, yang diperlukan hanyalah kurasi virtual dari karya siswa, disajikan melalui laman web, atau streaming You Tube, atau pendekatan lain yang sesuai dengan kelompok siswa . Dengan cepat dan mudah, pekerjaan dapat dibagikan untuk kepentingan semua.

Evaluasi Informasi Online

Karena banyaknya informasi online yang didapatkan oleh siswa, maka mereka perlu ada kemampuan untuk mengevaluasi kebenaran informasi yang mereka peroleh misalnya mempertanyakan apakah situs yang dikunjungi sah atau tipuan, penulis ahli atau bukan atau informasi terkini atau sudah kedaluarsa.

Etika  Dunia Digital

Karena siswa menghabiskan begitu banyak waktu online, mereka perlu memahami bagaimana bertindak di lingkungan itu. Ini termasuk topik yang merinci hak dan tanggung jawab warga digital seperti: perundungan siber, legalitas materi online, membeli barang secara online, jejak kaki digital dan Privasi dan keamanan saat berselancar di dunia digital.

Menjadi warga yang baik di dunia digital tidak berbeda dengan dunia fisik. Ada strategi praktis diseputar pengguna yang tepat dan pemahaman tentang budaya yang menembus wilayah yang luas dan  anonim.

Pertimbangan  kedelapan topik diatas adalah hal yang akan dibahas segera setelah siswa mulai mengunjungi internet. Lakukan dengan cara yang sesuai usia dan dilatih berulang-ulang sampai menjadi bagian dari pemahaman siswa.

logoblog

Manfaat Membaca Nyaring Terhadap Anak Usia Dini

Teknik membacakan buku nyaring kepada anak usia dini perlu lebih giat diadvokasikan kepada orangtua. Selain mempererat hubungan orangtua dengan anak, membaca nyaring juga membangun pemahaman anak mengenai diri sendiri, lingkungan, dan konsep berbahasa ynag benar.

Selama ini, mayoritas orangtua membaca nyaring kepada anak tanpa ada arahan. Misalnya, mereka mewajibkan anak untuk duduk diam hingga buku cerita selesai dibacakan. Kerap kali orangtua langsung membaca dari halaman pertama dan tidak berhenti hingga halaman terakhir. Ketika  menerapkan membaca nyaring, orangtua dan guru PAUD harus memperhatikan karakteristik anak.

Manfaat Membaca Nyaring Terhadap Anak Usia Dini

logoblog

Menumbuhkan Imajinasi Positif Melalui Pendidikan Seni

Pendidikan kesenian dalam berbagai bentuknya kadang ditempatkan sebagai ilmu kelas dua. Bahkan, muncul anggapan bahwa ilmu-ilmu pasti lebih unggul daripada ilmu-ilmu seni. Pemahaman seperti ini mengakibatkan seni termarjinalisasi dalam proses regenerasi komunitas-komunitas manusia.

Menumbuhkan Imajinasi Positif Melalui Pendidikan Seni


Pendidikan seni dinilai cocok untuk menumbuhkan, merawat, dan mengembangkan potensi-potensi manusia, termasuk kaum muda untuk berimajinasi secara positif. Seperti disebut ilmuwan Albert Einstein, imajinasi mampu mengantar orang menembus batas yang tak mampu ditembus oleh logika.

Melalui pendidikan yang memunculkan potensi imajinasi, salah satunya seni, kaum muda bisa belajar dan bertumbuh menjadi sosok-sosok yang berkarakter untuk selalu terhubung, berbeda rasa, dan berkesanggupan. Pembelajaran itu dilakukan melalui proses mengamati, memahami, dan mengkomunikasikan hal-hal yang diamati dan dipahaminya.

Tradisi pendidikan semacam ini memungkinkan individu-individu berkembang menjadi warga komunitas yang sanggup mengaitkan kebaikan hidupnya dengan kenyataan sosial di sekelilingnya.

Pendidikan seni menjadi sarana yang baik untuk melatih karakter anak-anak muda agar lebih percaya diri, kreatif, dan bisa bekerja sama. Karena itulah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kembali menggelar Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS). Pelajar belajar langsung tentang seni budaya kepada para pelakunya.

logoblog

Pentingnya Membaca Secara Ekstensif

Gerakan literasi tidak akan berhasil tanpa mengajak anak atau siswa menyukai buku. Melalui metode membaca ekstensif, anak sejak dini diajak menyukai buku dan menganggap buku sebagai sumber hiburan dan inspirasi.

Membaca ekstensif adalah teknik membaca dalam hati dimana pembaca harus bisa membaca wacana panjang dalam waktu yang terbatas. Membaca ekstensif disebut juga  dengan membaca sekilas atau membaca dangkal.

Pentingnya Membaca Secara Ekstensif


Pengertian membaca ekstensif yang lain yaitu membaca wacana dengan cepat dan menyeluruh untuk memporoleh isi atau makna dari teks atau wacana. Hal yang perlu diperhatikan dalam membaca cepat atau membaca ekstensif ini yaiyu teks yang akan dibaca biasanya beragam dan luas dan waktu membacanya harus singkat.

Pentingnya Membacakan Buku pada Anak Usia Dini

Sekolah dan rumah hendaknya mengembangkan kemampuan membaca ekstensif untuk anak. Setelah itu, baru mulai dilatih untuk membaca intensif dan membuat ulasan serta refleksi terhadap materi yang telah dibaca.

Membaca ekstensif dapat juga dikatakan membaca tampa beban. Di sekolah siswa dibebaskan memilih buku, majalah, atau pun koran yang hendak dibaca. Sesusai membaca, siswa tak perlu diminta berefleksi atau pun menulis ulasan mengenai apa yang dibaca itu. Kegiatan ini murni bertujuan memenuhi hasrat membaca dan mencari kesenangan.

Membaca ekstensif harus dikembangkan sejak awal karena kegiatan ini kunci dari terbentuknya kebiasaan membaca. Melalui metode membaca ekstensif, anak sejak dini menyukai buku dan menganggapnya sebagai salah satu sumber hiburan dan inspirasi.

Permasalahan yang terjadi di sekolah pada umumnya  adalah jumlah buku non pelajaran yang tersedia di perpustakaan sangat terbatas. Kalaupun ada, beberapa buku tidak sesuai dengan minat dan usia anak di sekolah. Tanpa ada buku menarik seperti novel dan kumpulan cerpen, target mengembangkan kebiasaan membaca ekstensif sukar terwujud.

Kendala lain adalah guru belum bisa menjadi teladan membaca. Sekolah menyadari belum semua guru memiliki kemampuan membaca, jadi tidak mungkin minat baca siswa bisa diolah lebih lanjut tanpa mengintervensi guru terlebih dahulu.

Bangkitkan Kembali Gerakan Membaca Secara Konservatif

Salah satu pendekatan yang dilakukan oleh pemerintah bauk pusat dan daerah, di sekolah umum maupun madrasah adalah dengan caea menyuruh guru menulis buku, sehingga ada program satu guru ditargetkan menerbitkan satu buku dalam satu tahun.

Tampa banyak membaca tidak mungkin bisa menulis. Kalau dipaksa terus, nanti tulisan yang dihasilkan bisa jadi hasil jiplakan dari tulisan-tulisan orang lain atau mutu tulisannya buruk karena dikerjakan tanpa keterampilan literasi mumpuni.

Satu-satunya cara ialah mengajak guru banyak membaca ekstensif. Secara bertahap, baru guru belajar membaca intensif, yaitu membaca dengan tujuan tertentu seperti untuk ditelaah isinya atau kemudian dibuat kritik terkait topik yang dibahas.

Pengajaran terhadap siswa juga serupa. Sebelum meminta mereka mengulas dan memceritakan kembali, keterampilan itu perlu diajar dan dilatih terlebih dahulu. Setelah itu, baru diujicobakan dengan mengulas teks-teks pendek sampai akhirnya bisa mengulas sebuah buku.

Gerakan Literasi Bukan Sekadar Baca-Tulis

Penelitian yang dilakukan oleh Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan Badan Bahasa dan Perbukuan Kemdikbud ditemukan penelitian terhadap 6.000 siswa di SMP-SMP yang bukan berasal dari sekolah terasesmen PISA (Program Asesmen Siswa Internasional). Dari skor 200 hingga 800, nilai rata-rata siswa adalah 489.

Ditemukan anak-anak yang mendapat nilai di atas 600, walaupun bersekolah di pedesaan, ternyata orangtua mereka terbiasa membacakan buku cerita sejak bayi. Siswa-siswa ini terbiasa dengan buku dan memiliki minat membaca sejak dini sehingga bagi mereka mudah untuk mengetahui jenis-jenis teks.

Hal penting adalah petugas perpustakaan sekolah rutin mendata koleksi buku yang ada. Mereka juga harus membuat pemetaan selera membaca siswa sehingga sekolah bisa menyediakan buku-buku yang diminati siswa.

logoblog

Pentingnya Pendidikan Kebencanaan Dimasukkan ke Semua Mata Pelajaran

Pendidikan mitigasi bencana hendaknya dimasukkan ke dalam semua mata pelajaran, kegiatan ekstrakurikuler, dan kebiasaan sehari-hari warga sekolah. Dalam penerapannya memang harus ada persepsi kolaboratif dan lintas disipliner di kalangan guru. Mitigasi bencana sendiri adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.

Pentingnya Pendidikan Kebencanaan Dimasukkan ke Semua Mata Pelajaran

logoblog
Copyright © Manajemen Sekolah. All rights reserved.