Workshop Membuat Website dari Nol tepat bagi Anda yang ingin membuat website sekolah, website pembelajaran, website personal, website organisasi, portal berita, dan website lainnya. Pastikan Anda bergabung di kegiatan ini! Yuk, langsung cek dan daftar melalui link dibawah ini

Tampilkan postingan dengan label Kurikulum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kurikulum. Tampilkan semua postingan

Beberapa Kesalahan Manajemen Kelas dan Cara Mengatasinya

Pada situs www.teachhub.com di paparkan tentang kesalahan-kesalahan manajemen kelas dan cara mengatasinya (Classroom Management Mistakes, How to Correct Them). Manajemen kelas bukan hanya kemampuan untuk mendisiplinkan siswa serta mengarahkan siswa sesuai dengan ketentuan yang diberlakukan, tetapi lebih dari itu semua adalah secara efektif mengelolah segala aspek di ruang kelas.

Beberapa Kesalahan Manajemen Kelas dan Cara Mengatasinya

logoblog

Strategi Mengajar untuk Mengembangkan Berpikir Tingkat Tinggi

Keterampilan berpikir tingkat tinggi  (Higher-Level Thinking) adalah keterampilan seperti berpikir kritis, menganalisis, dan memecahkan masalah. Semua itu adalah keterampilan penting abad ke- 21 yang mempersiapkan siswa untuk menerapkan apa yang sudah mereka ketahui (pengetahuan mereka sebelumnya) dengan apa yang mereka pelajari saat ini .

Strategi Mengajar untuk Mengembangkan Berpikir Tingkat Tinggi


logoblog

Pengajaran Bahasa di Era Media Sosial

Kesenangan memakai gawai di kalangan siswa memberi tantangan tersendiri bagi guru dalam mengajarkan bahasa Indonesia. Teks-teks yang menyebar di media sosial tidak tertulis sesuai kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Disisi lain, siswa cenderung memandang materi tata bahasa sebagai sesuatu yang membosangkan.


Pengajaran Bahasa di Era Media Sosial


logoblog

Modul Manajemen Implementasi Kurikulum 2013 Jenjang SMP

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 160 Tahun 2014 tentang Pemberlakuan Kurikulum Tahun 2006 dan Kurikulum 2013 menyatakan bahwa satuan pendidikan dasar dan pendidikan menengah dapat melaksanakan Kurikulum Tahun 2006 paling lama sampai dengan tahun pelajaran 2019/2020. Ketentuan ini memberi kesempatan kepada sekolah untuk mengelolah implementasi Kurikulum 2013.


logoblog

Penilaian Kompetensi Sikap

Penilaian sikap dilakukan dengan menggunakan teknik observasi oleh guru mata pelajaran (selama proses pembelajaran pada jam pelajaran), guru bimbingan konseling (BK), dan wali kelas (selama siswa di luar jam pelajaran) yang ditulis dalam buku jurnal (yang selanjtnya disebut jurnal). Jurnal berisi catatan anekdot (anecdotol record), dan informasi lain yang valid dan relevan.

Jurnal tidak hanya didasarkan pada apa yang dilihat langsung oleh guru, wali kelas, dan guru BK, tetapi juga informasi lain yang relevan dan valid yang diterima dari berbagai sumber. Selain itu, penilaian diri dan penilaian antarteman dapat dilakukan dalam rangka pembinaan dan pembentukan karakter siswa, yang hasilnya dapat dijadikan sebagai salah satu data konfirmasi dari hasil penilaian dapat dijadikan sebagai salah satu data konfirmasi dari hasil penilaian sikap oleh pendidik. Skema penilaian sikap dapat dilihat pada gambar berikut.

Skema penilaian sikap

logoblog

Konsep Penilaian Dalam Pembelajaran

Penilaian dilakukan dengan cara menganalisis dan menafsirkan data hasil pengukuran capaian kompetensi siswa yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. Kurikulum 2013 merupakan kurikulum berbasis kompetensi yang menekankan pembelajaran berbasis aktivitas yang bertujuan memfasilitasi siswa memperoleh sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Hal ini berimplikasi pada penilaian yang harus meliputi sikap, pengetahuan, dan keterampilan baik selama proses (formatif) maupun pada akhir periode pembelajaran (mandiri)

Konsep penilaian dalam pembelajaran
Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, menafsirkan, baik proses maupun hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan. Informasi tersebut dapat dimamfaatkan untuk menentukan tingkat keberhasilan pencapaian kompetensi yang telah ditentukan, keberhasilan proses pembelajaran, tingkat kesulitan belajar peserta didik, menentukan tindak lanjut pembelajaran, laporan hasil belajar peserta didik, dan pertanggungjawaban (accountability) terhadap pihak-pihakyang berkepentingan.

Penilaian proses pembelajaran menggunakan pendekatan penilaian autentik (autentik assesment) yang menilai kesiapan peserta didik, proses, dan hasil belajar secara utuh. Keterpaduan penilaian ketiga komponen tersebut akan menggambarkan kapasitas, gaya, dan perolehan belajar peserta didikatau bahkan mampu menghasilkan dampak instruksional (instructional effect) dan dampak pengiring (nurturant effect) dari pembelajaran. Hasil penilaian autentik dapat digunakan oleh guru untuk merencanakan program perbaikan (remedial), pengayaan (enrichment), atau layanan konseling.

Selain itu, hasil penilaian autentik dapat digunakan sebagai bahan untuk memperbaiki proses pembelajaran sesuai dengan Standar Penilaian Pendidikan. Evaluasi proses pembelajaran dilakukan saat proses pembelajaran dengan menggunakan instrumen yang berupa: angket, observasi, catatan anekdot dan refleksi.

Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan penilaian :
  1. Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian Kompetensi dasar (KD) pada Kompetensi Inti.
  2. Penilaian menggunakan acuan kriteria, yaitu penilaian yang dilakukan dengan membandingkan capaian siswa dengan kriteria kompetensi yang ditetapkan. Hasil penilaian baik yang formatif maupun sumatif seorang siswa tidak dibandingkan dengan skor siswa lainnya namun dibandingkan dengan penguasaan kompetensi yang dipersyaratkan.
  3. Penilaian dilakukan secara terencana dan berkelanjutan. Artinya semua indikator diukur, kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar (KD) yang telah dikuasai dan yang belum, serta untuk mengetahui kesulitan belajar siswa.
  4. Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut, berupa program peningkatan kualitas pembelajaran, program remedial bagi siswa yang pencapaian kompetensinya di bawah KBM/KKM, dan program pengayaan bagi siswa yang telah memenuhi KBM/KKM. Hasil penilaian juga digunakan sebagai umpan balik bagi orang tua/wali siswa dalam rangka meningkatkan kompetensi siswa.
Beberapa karakteristik penilaian IPS adalah:

a. Penilaian Pembelajaran Mengacu pada Ketuntasan KD 

Dalam  pembelajaran IPS, ketentuan penilaiannya dilakukan setelah tercapainya satu tema. Satu tema bisa terdiri atas beberapa KD. Setiap KD dalam satu tema tidak selalu memuat seluru indikator, artinya satu KD baru tuntas setelah beberapa tema dipelajari. Oleh karena itu penilaian yang seharusnya dilakukan setiap KD, namun pelaksanaapembelajarannya bisa berdasarkan tema.

b. Penilaian Dikembangkan secara Terpadu
  1. Pengembangan instrumen penilaian untuk pembelajaran IPS secara terpadu mencakup aspek afektif, kognitif dan skill/keterampilan. Berbagai jenis, teknik dan bentuk penilaian yang variatif digunakan agar diperoleh informasi pencapaian kompetensi peserta didik yang objektif, dan komprehensif.
  2. Penilaian dilakukan secara terencana dan berkelanjutan. Artinya semua indikator diukur, kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar (KD) yang telah dikuasai dan yang belum, serta untuk mengetahui kesulitan belajar siswa.

logoblog

Model Pembelajaran Discovery Learning

Model Pembelajaran Discoveri (Discopery Learning) diartikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila pembelajar tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya, tetapi diharapkan peserta didik mampu mengorganisasi sendiri hasil belajarnya. Sebagai model pembelajaran, Discovery Learning mempunyai prinsip yang sama dengan pembelajaran inkuiri (Inquiry-Learning). Tidak ada perbedaan prinsip diantara kedua istilah ini. Dicovery Learning lebih menekankan pada ditemukannya konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak diketahui.

Model Pembelajaran Discovery LearningPerbedaan dengan inquiry ialah bahwa  pada discovery masalah yang diperhadapkan kepada peserta didik semacam masalah yang dierkayasa oleh guru. Dalam mengaplikasikan metode Discovery Learning guru berperan sebagai pembimbing dengan memberikan kesempaten kepada peserta didik untuk belajar secara aktif, sebagaimana pendapat guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar peserta didik sesuai dengan tujuan. Kondisi seperti ini ingin merubah kegiatan belajar mengajar yang teacher Oriented menjadi student oriented.

Bahan ajar tidak disajikan dalam bentuk akhir, sehingga peserta didik dituntut untuk melakukan berbagai kegiatan menghimpun informasi, membandingkan, mengkategorisasi, menganalisis, mengintegrasikan, mereorganisasikan bahan serta membuat simpulan-simpulan.

Langkah-langkah pembelajaran Discovery-Inquirt sebagai berikut.
a) Langka Persiapan

  1. Menentukan tujuan pembelajaran.
  2. Melakukan identifikasi karakteristik peserta didik (kemampuan awal, minat, gaya belajar, dan sebagainya).
  3. Memilih materi pembelajaran.
  4. Menentukan topik-topik yang harus dipelajari peserta didik secara induktif (dari contoh-contoh generalisasi).
  5. Mengembangkan bahan-bahan pembelajaran yang berupa contoh-contoh, ilustrasi, tugas dan sebagainya untuk dipelajari peserta didik.
  6. Mengatur topik-topik materi pembelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari yang konkrek ke abstrak, atau dari tahap enaktif, ikonik sampai simbolik.
  7. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar peserta didik.
b) Pelaksanaan
  1. Stimulasi/pemberian rangsangan. Pertama-tama peserta didik dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan masalah. Kemudian guru dapat memulai kegiatan PBM dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah.
  2. Pernyataan/identifikasi masalah Selanjutnya guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin masalah yang relevan dengan bahan pembelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk jawaban sementara atas pertanyaan/masalah.
  3. Pengolahan Data. Semua informasi hasil bacaan, wawancara, observasi, dan sebagainya, diolah, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung dengan model tertentu serta dimaknai.
  4. Pengumpulan data Peserta didik mengumpulkan data sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya jawaban sementara atas pertanyaan/masalah. Pada tahap ini peserta didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati obyek, wawancara dengan narasumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya.
  5. Pembuktian.  Pada tahap ini peserta didik melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya jawaban sementara atau pertanyaan/masalah.
  6. Penarikan Simpulan/generalisasi. Tahap generalisasi/simpulan adalah prose4s menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi.

logoblog

Model Pembelajaran Berbasis Proyek

Pembelajaran Berbasis Proyek (PBP) atau dalam bahasa Inggrisnya dinamakan Project-Based Learning (PjBL) adalah model pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Penekanan pembelajaran terletak pada aktivitas peserta didik untuk menghasilkan produk dengan menerapkan keterampilan meneliti, menganalisis, membuat, sampai dengan mempresentasikan produk pembelajaran berdasarkan pengalaman nyata. Produk yang dimaksud adalah hasil proyek dalam bentuk desain, skema, karya tulis, karya seni, karya teknologi/prakarya, dan lain-lain.

Pendekatan ini memperkenalkan peserta didik untuk bekerja secara mandiri maupun berkelompok dalam mengkostruksikan produk nyata. Tujuan Pembelajaran Berbasis Proyek adalah sebagai berikut:
  1. Memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru dalam pembelajaran 
  2. Meningkatkan kemampuan peserta didik dalam pemecahan masalah proyek.
  3. Membuat peserta didik lebih aktif dalam memecahkan masalah proyek yang kompleks dengan hasil produk nyata berupa barang atau jasa.
  4. Mengembangkan dan meningkatkan keterampilan peserta didik dalam mengelolah sumber/bahan/alat untuk menyelesaikan tugas/proyek.
  5. Meningkatkan kolaborasi peserta didik khususnya pada PBH yang bersifat kelompok.
Dalam PBP, peserta didik diberikan tugas dengan mengembangkan tema/topik dalam pembelajaran dengan melakukan kegiatan proyek yang realistik . Disamping itu, penerapan pembelajaran berbasis proyek ini mendorong tumbuhnya kreativitas, kemandirian, tanggung jawab, kepercayaan diri, serta berpikir kritis dan analitis pada peserta didik.  Secara umum, langkah-langkah PBP dikemukakan oleh Dirktorat PSMP (Panduan Penguatan Pembelajaran, Direktorat PSMP, 2013) dapat dijelaskan sebagai berikut.
Model pembelajaran berbasis proyek

logoblog

Model Pembelajaran Berbasis Masalah

Salah satu model pembelajaran yang direkomendasikan di dalam standar proses adalah model pembelajaran berbasis masalah. Pembelajaran berbasis masalah atau didalam bahasa Inggris disebut Problem Based Learning (PBL) adalah pembelajaran yang menggunakan masalah nyata sebagai konteks atau sarana bagi perserta didik untuk mengembangkan keterampilan penyelesaian masalah dan berpikir kritis serta membangun pengetahuan baru.
Model pembelajaran berbasis masalah
Pembelajaran berbasis masalah

logoblog
Copyright © Manajemen Sekolah. All rights reserved.