Melatih Guru Dengan Literasi Digital

Literasi digital di kalangan siswa masih rendah. Dari 51 juta siswa di Indonesia, baru 10 persen yang siap dengan dunia digital. Dalam hal ini peran guru penting untuk meningkatkan literasi digital siswa.

Melatih Guru Dengan Literasi Digital

Mempercepat kompetensi guru menguasai literasi digital merupakan keharusan agar bisa memaksimalkan pemelajaran di abad ke-21. Selain upaya dari pemerintah, berbagai inisiatif yang dilakukan sektor swasta serta swadaya masyarakat juga turut berkontribusi memungkinkan kemajuan ini semakin bisa dicapai.

Di Indonesia ada 51 juta siswa yang membutuhkan pendekatan pemelajaran abad ke-21, yaitu berpikir kritis, mengembangkan kreativitas, dan cakap dalam memakai teknologi untuk mencapai target pembangunan. Permasalahannya saat ini baru 10 persen dari jumlah itu yang siap dengan dunia digital, dalam arti mampu memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan mutu pembelajaran dan aktualisasi diri yang produktif.

Menurut Agensi global We Are Social yang memonitor penggunaan internet di dunia mencatat di Indonesia per Januari 2019 ada 150 juta pengguna internet. Sebanyak 40 persennya adalah penduduk usia 19-30 tahun, diikuti penduduk usia 13-19 tahun sebanyak 16 persen. Apabila konsumsi informasi digital tidak disertai keterampilan mengarahkan kebutuhan, menyarin informasi, dan membuat konten yang baik, teknologi digital tidak akan bisa dimanfaatkan untuk pembangunan.

Peranan guru sangat penting untuk menumbuhkan dan meningkatkan literasi digital pada siswa. Namun pertama-tama, guru juga perlu mendapatkan pelatihan. Pelatihan literasi digital harus dimulai dari kebutuhan para guru. Bukan sekadar mengenalkan teknologi atau aplikasi terbaru karena kebutuhan setiap guru untuk mengajar dan secara pribadi berbeda-beda.

Paradigma pertama yang ditanamkan kepada guru ialah agar tidak melihat teknologi sebagai hal yang menakutkan dan hanya mendatangkan efek buruk kepada siswa. Misalnya, membuat siswa menjadi antisosial atau mengakses konten negatif di internet. Teknologi sejatinya bisa menjadi jalan mengakses sumber-sumber ilmu terbaru selama guru mengenali informasi yang akurat dan bisa diverifikasi.

Selain mengajari cara menavigasi di arus informasi digital dan teknis memakai gawai, guru juga dilatih sebagai produsen konten. Caranya dengan mengajak guru rajin menulis, bisa berupa blog maupun buku digital.

Perusahaan aplikasi digital RuangGuru.com juga membuat konten pelatihan literasi digital untuk guru dan siswa. Selain pelatihan langsung secara tatap muka juga ada melalui daring yang bisa diakses di aplikasi RuangGuru.

Guru dan siswa perlu dipaparkan kepada berbagai keragaman budaya yang ada di masyarakat sehingga tidak menimbulkan prasangka kepada kelompok yang berbeda. Dari pemberian narasi yang hetorogen ini kemudian berkembang pelatihan cakap memakai teknologi digital.

Kendala utama yang didapati dari para guru adalah ketika mengimplementasikan literasi digital di kelas masing-masing. Apalagi bagi guru mata pelajaran umum, bukan guru teknologi informasi dan komunikasi. Pemakaian teknologi bagi mereka umumnya baru sebatas untuk berkomunikasi.

logoblog
Previous Post
Newer Post
Next Post
Older Post

Post a comment

Copyright © Manajemen Sekolah. All rights reserved.