Gempa Tektonik, Ring of Fire Hingga Supervolcano

Hari Kamis tanggal (11/10/2018) gempa bumi terjadi di Jawa Timur, sebelumnya dalam tenggang waktu yang tidak lama terjadi di Sulawesi tengah dan Lombok.  Indonesia merupakan salah satu negara yang rentan mengalami peristiwa gempa bumi karena terletak di Cincing Api Pasifik atau Ring of Fire.

Gempa Tektonik, Ring of Fire Hingga Supervolcano
Sumber: National Geografic
Cincing Api Pasifik atau Ring of  Fire adalah istilah yang digunakan untuk menyebut wilayah yang sering mengalami letusan gunung berapi aktif dan gempa bumi. Cincing Api Pasifik meliputi wilayah cekungan Samudera Pasifik. Disebut Ring of Fire karena wilayah tersebut memiliki bentuk tapal kuda.


 Panjang area yang termasuk dalam Cincing Api Pasifik adalah 40,000 km. Dari sekitar 90% gempa bumi yang terjadi sejauh uni, 81 persen diantaranya terjadi di wilayah Cincing Api Pasifik. Wilayah daratan dan lautan yang mencakup dalam Cincing Api Pasifik adalah:

(1) Selandia Baru, (2) Palung Kermadec, (3) Palung Tonga, (4) Palung Bougainville, (5) Indonesia, (6) Gunung Merapi, (7) Filipina, (8) Palung Filipina, (9) Palung Yap, (10) Palung Mariana, (11) Palung Izu Bonin, (12) Palung Ryukyu, (13) Jepang, (14) Gunung Fuji, (15) Palung Jepang, (16) Palung Kurile, (17) Kamchatka, (18) Kepulauan Aleutia, (19) American Cordillera, (20) Alaska, (21) Pesisir Pasifik, (22) British Columbia, (23) Pegunungan Cascade, (24) Gunung St. Hellens, (25) California, (26) Meksiko, (27) Palung Amerika Tengah, (28) Guatemala, (29) Nikaragua, (30) Kolombia, (31) Ekuador, (32) Peru, dan (33) Palung Peru - Palung Chili.

Sekitar 17 persen dari gempa bumi terbesar atau sekitar 5 hingga 6 persen gempa bumi yang terjadi di dunia terjadi di daerah Sabuk Alpine. Baik Cincin Api Pasifik maupun Sabuk Alpine, Indonesia termasuk di kedua jalur ini.

Bahkan Ilmuwan memperingatkan tentang akan datangnya letusan supervolcano atau letusan gunung berapi kolosal yang bisa membuat bumi seperti kiamat. Letusan super besar itu, menurut studi yang terbit dalam jurnal Earth and Planetary Science Letter edisi 29 November 2017 dalam tempo.co, bisa membuat bumi kembali ke keadaan sebelum peradaban.

Gempa Tektonik, Ring of Fire Hingga Supervolcano
Sumber: wikipedia.org
Tidak ada letusan super dalam 20 ribu tahun terakhir. Ledakan raksasa, bisa menghancurkan planet yang kita tempati saat ini dengan abu vulkanik yang cukup untuk menutupi seluruh benua. Dalam studi berjudul "The global magnitude-frequency relationship for large exlosive volcanic eruptions" Rougier dan tim mengungkap letusan supervolcano bisa terjadi lebih dekat dari yang diperkirakan. Letusan super rata-rata terjadi setiap 17 ribu tahun sekali. Namun bisa saja terjadi dalam waktu 5.200 tahun. Erupsi supervolcano bisa melepaskan 1.000 gigaton abu ke udara.(tempo.co).

Berdasarkan sejarah geologi letusan super terakhir terjadi pada 20-30 ribu tahun yang lalu.  Gunung berapi super seperti Yellowstone mulai menunjukkan tanda-tanda potensi letusan, yang diduga dalam waktu dekat dapat mendatangkan malapetaka bagi kehidupan di bumi. Selain itu, pulau yang berada di tengah Danau Toba menunjukkan pertanda bahwa permukaan bumi mulai mengelembung akibat tekanan magma dari perut bumi. Menurut peneliti sampai saat ini situs di Danau Toba tersebut semakin aktif. (tempo.co).

Supervolcano diketahui mengancam dunia jika meletus, namun potensi mereka untuk menghancurkan peradaban sering tidak terdokumentasi karena berlangsung di zaman lampau. Supervolcano ini telah menghapus banyak bagian kehidupan sebelumnya dan ada kemungkinan serius bahwa mereka akan melakukannya lagi di masa depan. Hal ini menimbulkan pertanyaan supervolcano mana yang seharusnya paling dikhawatirkan.

Yellowstone adalah supervolcano yang menerima sejumlah besar liputan media di seluruh dunia. Tapi apakah ini benar-benar gunung berapi terbesar dan paling mengancam. Dalam hal ini pesaingnya adalah Toba yang terletak di Indonesia. Letusan Toba lebih baru dalam hal jam geologi. Ketika meletus, letusan Toba dianggap telah menciptakan kerusakan di dunia, yang hampir memusnahkan manusia periode awal.

Baik Yellowstone maupun Toba telah menghasilkan letusan dengan ukuran yang sama sekitar 5.000 kilometer kubik. Tidak hanya mampu melepaskan lava dalam jumlah besar, tetapi juga sejumlah besar batu, abu, dan zat lain seperti belerang. Juga menurunkan suhu global sangat jauh, meski sementara. Keduanya menghasilkan letusan yang lebih dari mampu membunuh lebih dari 6 miliar orang di planet ini.

Yellowstone yang terletak di Wyoming, AS, adalah gunung berapi paling terkenal dan juga memiliki potensi untuk menjadi yang paling kuat. Supervolcano Yellowstone terakhir meletus 700.000 tahun yang lalu, tetapi para ahli mengatakan gunung itu bakal meledak setiap satu juta tahun atau lebih. Jika gunung berapi yang kuat itu meletus, diperkirakan 87.000 orang akan terbunuh dan dua pertiga dari AS akan tidak layak huni.

Gempa Tektonik, Ring of Fire Hingga Supervolcano
Sumber: Daily Express
Ribuan ton abu memuntahkan ke atmosfer akan menghalangi sinar matahari dan langsung mempengaruhi kehidupan di bawahnya yang menciptakan "musim dingin nuklir". Sejumlah besar sulfur dioksida yang dilemparkan ke atmosfer akan membentuk sulfur aerosol yang memantulkan dan menyerap sinar matahari.

Pada 2015, para ilmuwan mengumunkan Yellowstone memiliki waduk magma empat kali lebih besar dari ruang dibawahnya. Mereka mengatakan ini bisa menjadikannya waduk magma terbesar di dunia, dengan volumenya 46.000 km3 - cukup besar untuk mengisi Grand Canyon 11 kali lebih.

Danau Toba adalah salah satu supervolcano terbesar di dunia dan terletak di Sumatera Utara, Indonesia. Terakhir meletus 74.000 tahun yang lalu menyebabkan 2.800 - 5.300 km kubik bahan terlontar ke atmosfer.

Menyusul letusan itu, suhu global menurun drastis selama satu dekade, dan menutupi wilayah besar Indonesia dan India dalam abu. Sebuah pulau di tengah Danau Toba, Indonesia, perlahan naik dan dianggap sebagai tanda Bumi menggembung karena tekanan magma di bawah permukaan.

Meski demikian, karena baru meledak, Toba meletus 74 ribu tahun lalu dibandingkan Yellowstone 640 ribu tahun lalu, meski Toba hampir 3 kali lebih besar, tapi siklusnya masih lama. Dalam hal ini Yellowstone cukup lebih berbahaya.

-----------------------------------------
Referensi
  1. http://makassar.tribunnews.com/2018/10/11/gempa-bumi-hari-ini-7-sebab-indonesia-rawan-diguncang-nomor-1-ada-di-kawasan-cincin-api?page=2  
  2. https://tekno.tempo.co/read/1134874/Supervolcano Yellowstone vs Toba, Mana yang Lebih Berbahaya?
  3. https://www.express.co.uk/news/science/1001943/yellowstone-supervolcano-eruption-power-NASA-jet-propulsion-laboratory-yellowstone-volcano

logoblog
Previous Post
Newer Post
Next Post
Older Post

Post a comment

Copyright © Manajemen Sekolah. All rights reserved.