Penerapan Metode Berpikir Tingkat Tinggi Bagi Guru

Penerapan metode berpikir tingkat tinggi atau higher order thinking harus diimbangi dengan kompetensi guru. Pelatihan rutin berkelanjutan bagi guru berguna untuk mengasah kemampuan praktik mengajar di kelas hingga sistem evaluasi belajar. Pelatihan yang dibutuhkan adalah yang konkret, bukan seminar dan presentase materi saja.

Dibutuhkan banyak waktu untuk mengevaluasi hasil pembelajaran siswa. Sebagai contoh seorang guru yang mengajar tujuh rombongan belajar yang masing-masing siswanya berisi 40 oarng, menggunakan banyak waktu untuk mengevaluasi hasil kerja siswa dan mempersiapkan materi berikutnya.

Misalnya seorang guru meminta siswa menulis esai, alasannya melalui cara ini guru bisa memetakan pemahaman siswa. Cara itu juga mencegah kemungkinan siswa mencontek. Jika sekolah berada diwilayah kawasan pertanian, maka soal-soal dibuat agar mereka menganalisis masalah dengan memakai contoh fenomena di alam sekitar. Hal ini membuat siswa cepat menangkap materi. Meskipun begitu, pada tahap tertentu harus ditambah dengan praktik di laboratorium.

Guru bisa memanfaatkan teknologi untuk melengkapi pembelajaran berbasis nalar. Membuat sistem dengan memanfaatkan gawai serta aplikasi telepon pintar untuk mengevaluasi hasil kerja siswa. Di sampin itu juga mengemas latihan soal dalam bentuk kuis sehingga siswa tidak bosan. Dalam pembelajaran sejarah misalnya sudah tak tepat lagi digunakan metode menghapal nama tokoh dan tanggal peristiwa.

Siswa harus menganalisis terjadinya suatu kejadian bersejarah dan mengemukakan pendapat mereka. Latihan dalam bentuk kuis membuat siswa antusias membaca dan mencari sumber valid, selain buku tes.

Memberikan pembelajaran nalar tingkat tinggi masih dianggap sebagai beban oleh kebanyakan guru. Alasannya karena pada umumnya dalam satu robongan belajar guru harus mengampuh 36 hingga 40 siswa. Guru akan terpaku pada soal-soal aritmetika misalnya pada pelajaran matematika yang rumusnya hanya satu macam agar mudah melakukan penilaian.

Misalnya guru menanyakan cara menghitung luas persegi panjang. Rumusnya sudah baku, yakni panjang kali lebar. Tingkat kesulitan ditambah dengan cara memperbesar jumlah panjang dan lebar menjadi ribuan meter ditambah bilangan pecahan. Hal ini bisa dihitung dengan kalkulator. Kalaupun dikerja secara manual, hanya kemampuan perkalian mendasar siswa yang terasah.

Namun, soal seperti ini mudah dievaluasi oleh guru karena rumusnya hanya  satu dan hasil perhitungannya sudah pasti. Hal ini berbeda dengan soal penalaran. Angka-angka dalam soal jenis itu sederhana. Misalnya soal mengenai luas bidang 20 metwr persegi. Siswa diminta mencari bentuk-bentuk bidang yang memungkinkan menghasilkan luas sebesar itu.

Jawabannya bisa macam-macam, tergantung kreativitas siswa karena bangun bidang bisa berupa persegi panjang, bujur sangkar, lingkaran, setengah lingkaran, dan lain-lain. Yang penting siswa bisa memberi rumus perhitungan tepat untuk bidang-bidang tersebut.

Dengan pelatihan berkesinambungan, guru bisa menyadari bahwa pembelajaran berbasis nalar sebenarnya sederhana selalu dikaitkan dengan pemecahan persoalan di kehidupan sehari-hari. 

logoblog
Previous Post
Newer Post
Next Post
Older Post

Post a comment

Copyright © Manajemen Sekolah. All rights reserved.