Adaptasi Istilah dan Kata Baru Ke Kamus Besar Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang sangat terbuka, baik terhadp perkemangan zaman maupun bahasa asing.  Terbukti, banyak istilah dan kata baru yang dimasukkan ke Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V seiring dengan perkembangan teknologi, ekonomi, dan politik. Setidaknya hingga saat ini ada 100 ribuan lebih lema (kata atau frasa masukan dalam kamus di luar definisi atau penjelasan lain yang diberikan dalam entri) yang ada di dalam KBBI Edisi V.

Adaptasi Istilah dan Kata Baru Ke Kamus Besar Bahasa Indonesia
Kamus Besar Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia juga kerap menyerap kata-kata baru, baik dari bahasa asing atau bahasa daerah, yang sekiranya kata itu memang tidak ada konsepnya dalam bahasa persatuan ini. Contoh kata-kata itu ialah netizen, yang diserap menjadi warganet meskipun netizen tetap ada dalam entri, lalu tablet tetap diserap menjadi tablet (konsepnya tidak ada dalam bahasa Indonesia), Financial technology menjadi teknologi finansial, dan omnichannel menjadi omnikanal.

Namun, proses penyerapan dari bahasa asing dan bahasa daerah itu bukan berarti dilakukan tanpa kaidah atau aturan. Dalam praktiknya, ada aturan atau standarisasi yang harus dipatuhi, tidak asal serap, yaitu penyerapan melalui adopsi (tablet tetap tablet), adaptasi (communication menjadi komunikasi), penerjemahan (training camp menjadi tempat pelatihan), dan kreasi (mass rapid transit menjadi moda raya terpadu/MRT).

Akan tetapi, di dalam implementasinya, terutama di jejaring sosial, pengguna bahasa indonesia kerap keliru dalam menggunakan kata yang diserap dari bahasa asing, terutama dalam proses adaptasi, entah itu karena kekurangpahaman (kurangnya kompetensi) atau kekeliruan (performasi). Kekeliruan atau kesalahan tersebut tersebar bak virus, menyebar tak terkendali, menjamur di media-media, baik media massa maupun media sosial, dan meninggalkan jejak digital yang tak terhitung jumlahnya.

Kesalahannya memang terlihat sepele, misalnya, hanya berbeda satu huruf, salah peletakan huruf, atau kurang satu huruf, misalnya, carrier jadi karir (seharusnya karier), extreme jadi ekstrim (semestinya ekstrem), dan negotiation jadi negoisasi (seharusnya negosiasi).

Jika kesalahan atau kekeliruan tersebut terus dibiarkan dan tidak ada tindakan untuk mencegahnya, hal semacam itu pasti akan terus berulang dan tidak tertutup kemungkinan akan menyebabkan kesalahan lain, atau lebih parah merambat pada tingkat kebahasaan yang lebih tinggi. Berkaitan dengan masalah itu, media massa sebenarnya mempunyai peran yang sangat penting. Sebabnya, media massa punya ruang yang luas dalam mengampanyekan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Terlebih sekarang ada ruang tak terbatas bernama internet, lebih spesifik ke media sosial. Jangan sampai media massa yang seharusnya memberikan pemahaman kebahasaan yang baik dan benar kepada masyarakat malah menyebarkan kesalahan-kesalahan berbahasa tersebut.

logoblog
Previous Post
Newer Post
Next Post
Older Post

Post a comment

Copyright © Manajemen Sekolah. All rights reserved.