Potensi Gangguan Gawai Terhadap Tumbuh Kembang Anak

Gawai yang terhubung sistem daring dengan berbagai fitur, ibarat pisau bermata dua yang bisa bermanfaat tetapi juga bisa membahayakan kehidupan anak-anak. Sejumlah anak mengalami "gangguan jiwa" akibat kecanduan gawai.

Potensi Gangguan Gawai Terhadap Tumbuh Kembang AnakSelain menjadi alat komunikasi dan sumber informasi, gawai yang dilengkapai berbagai fitur juga menjadi pintu masuk bagi anak-anak untuk mengakses media sosial, gim, dan fitur lainnya secara daring yang belum sesuai untuk usianya. Bahkan, penggunaan gawai yang terus menerus tanpa mengenal waktu, berpotensi mengganggu tumbuh kembang anak serta membuat anak kecanduan atau adiksi gawai.

Fenomena anak-anak yang kecanduan gawai setidaknya semakin terlihat dalam lima tahun terakhir. Meskipun belum ada angka pasti berapa persentase dan jumlah anak yang mengalami gejala kecanduan atau kecanduan gawai, dari sejumlah kasus yang terungkap di publik, hasil kajian, survei, dan penelitian menunjukkan fenomena kecanduan gawai pada anak saat ini berada pada situasi mengkhawatirkan. Tidak hanya menjadi korban, anak-anak terlibat dalam sejumlah kasus yang masuk kategori tindak pidana.

Anak kecanduan gawai menjadi tantangan serius. Hanya saja, tidak semua orangtua mengetahuinya jika anaknya terindikasi kecanduan gawai. Tidak semua anak yang bermain gim langsung disebut mengalami adikasi atau kecanduan gim. Namun, penggunaan gawai pada anak dan remaja lebih dari 3 jam sehari menyebabkan mereka rentan kecanduan gawai.

Adiksi gim daring itu terjadi ketika gejala yang dialami sudah mengganggu fungsi diri dan berlangsung selama 12 bulan. Adapun fungsi diri itu seperti fungsi relasi, pendidikan, pekerjaan, dan kegiatan rutin lainnya.

Potensi Gangguan Gawai Terhadap Tumbuh Kembang Anak

Dari sisi usia, anak yang rentang mengalami kecanduan gawai berada direntang usia 13 - 18 tahun. Pada usia anak, bagian otak yaitu dorsolateral prefrontal cortex yang berfungsi untuk mencegah seseorang bersikap impulsif sehingga seseorang bisa merencanakan dan mengontrol perilaku dengan baik belum matang. Ketika bagian ini sudah terganggu, maka seseorang rentan bersikap impulsif, termasuk pada penggunaan gawai.

Penggunaan gawai pada anak dan remaja yeng lebih dari 3 jam dalam sehari dapat menyebabkan mereka rentan pada kecanduan gawai. Kecanduan gim pada gawai saat ini mendapat perhatian dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan Internasional Classification of Disease (ICD) yang menyebutkan kecanduan main gim sebagai gangguan kesehatan jiwa, yang masuk  sebagai gangguan permainan atau gaming disorder.

Kecenderungan meningkatnya kasus anak kecanduan gawai tersebut terkait dengan tingginya penetrasi internet di Indonesia. Berdasarkan Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2017, sebanyak 143.26 juta orang atau 54,68 persen dari populasi Indonesia. Penetrasi pengguna internet terbesar berada pada usia 13-18 tahun (75,50 persen). Gawai adalah perangkat yang paling banyak dipakai untuk mengakses internet (44,16 persen).

Sebanyak 93,52 persen penggunaan media sosial oleh individu Indonesia berada di usia 9-19 tahun dan penggunaan internet oleh individu sebanyak 65,34 persen berusia 9-19 tahun. Umumnya anak-anak menggunakan internet untuk mengakses media sosial, termasuk Youtube, dan gim daring.

Potensi Gangguan Gawai Terhadap Tumbuh Kembang AnakBerdasarkan kajian Pengguna Media Sosial oleh Anak dan Remaja oleh Pusat Kajian Komunikasi (Puskakom) Universitas Indonesia 2017, anak-anak dan remaja tertarik mengakses media sosial karena dapat mempertemukan kembali diri mereka dengan teman-teman dan keluarga yang terpisah jarak.  Media sosial juga memberikan wadah bagi mereka untuk bergabung dalam sebauah komunitas. Adapun mereka mengakses gim daring untuk memenuhi hasrat mereka dalam bermain di dunia maya.

Bukan hanya menimbulkan adiksi atau kecanduan gawai, anak-anak juga rentan terpapar konten-konten negatif saat mengakses internet, antara lain konten pornografi. Dalam beberapa kasus, anak-anak yang terpapar konten pornografi menjadi rentan melakukan kekerasan seksual.

Dari hasil penelitian konten pornografi merupakan faktor determinan yang memengaruhi anak melakukan kekerasan seksual. Konten pornografi paling banyak diakses anak-anak melalui gawai disusul komputer, gambar, dan lainnya.

Selain perilaku berubah menjadi kasar dan temperamental, pendidikannya terganggu, sejumlah anak yang kecanduan gawai terutama karena gim daring, media sosial, dan konten negatif, anak-anak melakukan tindakan-tindakan yang mengancam jiwa orang lain. Kondisi tersebut tidak terlepas dari pola pengasuhan orangtua. Bahkan pola pengasuhan orang tua menjadi hal yang sangat penting dan mendasar dalam tumbuh kembang anak.

logoblog
Previous Post
Newer Post
Next Post
Older Post

Post a comment

Copyright © Manajemen Sekolah. All rights reserved.