Penentuan Pemilihan Bahan atau Sumber Belajar

Menentukan bahan yang sebaiknya diajarkan senantiasa merupakan masalah yang berat. Kesulitannya ialah menentukan kriteria yang dapat memenuhi keinginan bersama atas persetujuan bersama. Ada kemungkinan bahan pelajaran tidak ditentukan secara nasional. Tetapi, oleh tokoh atau golongan yang berkuasa yang mempunyai pertimbangan sendiri.

Komputer salah satu bahan atau sumber belajar
Komputer adalah bahan atau sumber belajar
Kesulitan lain ialah eksplotasi pengetahuan yang berlangsung dengan tempo yang kian cepat sehingga tidak ada pengetahuan konvensional yang berlaku lama.  Perkembangan dunia yang dinamis menimbulkan hal-hal baru yang dianggap perlu diajarkan kepada anak-anak, seperti soal narkoba, seks bebas, bahaya lalu lintas, an sebagainya.

Selain itu, syarat-syarat untuk mencari pekerjaan dan menghadapi situasi-situasi baru dalam dunia modern ini bertambah berat sehingga bahan pelajaran perlu diperluas dan diperdalam. Perlu dipertimbangkan agar bahan dan sumber belajar yang disajikan jangan berupa kumpulan-kumpulan pengetahuan yang lepas, tetapi harus saling berhubungan sehingga dapat membantu anak menghadapi masalah-masalah dalam hidupnya.

Perlu adanya kriteria prioritas, memang tidak mudah. Tiap ahli atau sarjana dapat menunjukkan
Buku sebagai bahan atau sumber belajar
Buku sebagai bahan atau sumber belajar
pentingnya disiplin ilmunya masing-masing. Jadi, sukar menentukan prioritas disiplin-disiplin ilmu. Prioritas itu juga bergantung pada keadaan masyarakat secara politik, ekonomis, dan sosial. Pada saat memerlukan konsolidasi, suatu bangsa akan diberi sesuatu yang lain jika negara itu mantap dan berada pada taraf pengembangan industri.

Juga perlu dipertimbangkan apakah yang akan diutamakan, proses berpikir atau bahan atau sumber pelajaran, isi, atau produk. Apakah yang dipentingkan pengetahuan berupa akta, informasi, ataukah ide-ide pokok, konsep-konsep fundamental atau sistem-sistem berpikir.

Pada umumnya, dapat dikatakan bahwa kriteria dalam penentuan bahan atau sumber pelajaran akan bertalian dengan faktor-faktor seperti fungsi sekolah dalam masyarakat, kebutuhan masyarakat, tuntutan masyarakat, minat secara hakikat, dan isi disiplin ilmu.

Hilda Taba emberikan kriteria dalam penentuan bahan yang diajarkan, sebagai berikut.
  1. Bahan itu harus sahih (valid) dan berarti (significant) artinya harus menggambarkan pengetahuan mutakhir. Karena bahan berupa fakta dan informasi cepat menjadi usang maka diutamakan bahan berupa konsep, prinsip, ide pokok, generalisasi, dan sistem pikiran yang lebih permanen walaupun mungkin mengalami perubahan. Dalam hal ini, Bruner menganjurkan struktur disiplin atau truktur mata pelajaran. Selain isi pelajaran, perlu diajarkan juga semangat dan metode penelitian agar dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang relevan.
  2. Bahan itu harus relevan dengan kenyataan sosial dan kultural agar anak-anak lebih mampu memahami dunia tempat ia hidup, serta perubahan-perubahan yang terus-menerus terjadi. Diharapkan pula agar pengetahuannya dapat digunakannya untuk menghadapi masa datang yang mengandung unsur-unsur baru yang kini masih belum diketahui.
  3. Bahan pelajaran itu harus mengandung keseimbangan antara keluasan dan kedalaman kedua pengertian tersebut sebenarnya mengandung kontradiksi. Bahan yang luas cenderung dipelajari secara mendalam maka bahannya sempit. Namun, hal tersebut dapat dipertemukan jika pelajaran dipusatkan pada bidang-bidang tertentu yang mengandung prinsip-prinsip, konsep, dan ide pokok yang luas sehingga kedalaman pelajaran dalam bidang terbatas membuka kemungkinan untuk memahami bidang-bidang lain. Jadi, intinya adalah mengajar untuk melakukan transfer.
  4. Bahan pelajaran harus mencakup berbagai ragam tujuan bila pelajaran dapat sekaligus mencapai tujuan berupa pengetahuan, sikap, keterampilan, berpikir, dan kebiasaan. Dalam mempelajari suatu negara dapat dikembangkan generalisasi tentang hubungan keadaan geografis dengan sumber-sumber alam, produksi, cara hidup penduduk, dan sebagainya.
  5. Bahan pelajaran harus dapat disesuaikan dengan kemampuan murid untuk mempelajarinya dan dapat dihubungkan dengan pengalamnanya. Kita jangan memandang kemampuan murid terlampau tinggi atau terlampau rendah. Kesulitan di sini ialah perbedaan individual antara murid-murid, baik intelektual maupun sosial-kultural.
  6. Bahan pelajaran harus sesuai engan kebutuhan dan minat pelajaran. Tidak mudah menentukan minat dan kebutuhan murid. Kebutuhan itu dapat bersifat individual, personal dapat pula bersifat sosial. Kedua kebutuhan itu sering dipertentangkan sebagai individu versus masyarakat. Namun, kebutuhan individu banyak ditentukan oleh masyarakat. Kebutuhan dapat ditafsirkan sebagai apa yang dituntut oleh masyarakat agar individu dapat hidup tenteram dalam masyarakat. Kebutuhan apat juga dipandang sebagai kesenjangan antara keadaan pelajar sekarang dengan apa yang diharapkan dari mereka.
Kurikulum yang semata-mata didasarkan atas kebutuhan dan minat anak seperti yang terjadi dalam kurikulum "child centered" terbukti berat sebelah. Di lain pihak, faktor anak tak dapat diabaikan dalam pengembangan kurikulum.

Kriteria yang dikemukakan oleh Ronald C. Doll memiliki banyak kemiripan dengan apa yang dikemukakan oleh Hilda Taba. Kriteria tersebut adalah sebagai berikut.
  1. Validasi dan signifikansi bahan.
  2. Bahan atau keseimbangan antara bahan untuk survei dan untuk tudi pendalaman
  3. Kesesuaian bahan dengan kebutuhan dan minat pelajar.
  4. Kemantapan bahan, yakni yang tidak segera usang.
  5. Hubungan antara bahan dengan ide pokok dan konsep-konsep.
  6. Kemampuan murid untuk mempelajari bahan.
  7. Kemungkinan menjelaskan bahan itu dengan data dan disiplin lain.
Mengenai bahan pelajaran Glen Hass (Hass 1977) mengajukan kriteria berikut.
  • Apakah kurikulum yang direncanakan itu membantu murid untuk memahami konsep pokok, prinsip-prinsip, dan truktur bahan yang dipelajari ? 
  • Apakah kurikulum itu memberi kesempatan untuk menemukan atau menggunakan "advance organizers"?
  • Apakah kurikulum itu memerhatikan bahwa tiap murid membentuk dan mengembangkan struktur pengetahuannya masing-masing dan bahwa murid itu memerlukan bantuan agar melihatkesenjangan antara struktur pengetahuannya dengan struktur disiplin ilmu yang dipelajarinya ?
  • Apakah kurikulum itu mengandung pendidikan interdisipliner berdasarkan kebutuhan pelajar dan masalah-masalah personal-sosial ?
  • Apakah kurikulum itu mengutamakan proses untuk mengetahui termasuk mengadakan analisis dan melihat keseluruhan serta hubungan antara bagian-bagiannya?
Dari berbagai kriteria yang dikemukakan di atas, dapat dilihat persamaan pendapat sebagai berikut.
  • Dalam kurikulum diutamakan konsep, ide pokok, atau prinsip bukan hanya informasi dan fakta.
  • Bahan pelajaran harus mempunyai struktur sehingga bagian-bagiannya tidak lepas akan tetapi merupakan kebulatan.
  • Bahan itu harus memungkinkan penemuan atau discovery, jadi berupa masalah yang harus dipecahkan.
  • Tiap murid mempunyai truktur mental sendiri yang dikembangkannya sepanjang hidupnya.
  • Disiplin ilmu digunakan untuk menyempurnakan struktur mental atau struktur pengetahuannya.
  • Dengan demikian disiplin tidak lagi menduduki tempat yang sepenting semula.
  • Kurikulum harus pula mempersoalkan masalah-masalah personal-sosial yang dihadapi murid yang dapat dipecahkan secara interdisipliner.
  • Anak dan kebutuhannya merupakan faktor yang harus dipertimbangkan dalam tiap kurikulum. 
  • Kurikulum tidak mengutamakan pengetahuan yang harus dikuasai atau dihafal akan tetapi lebih mementingkan cara atau proses memperoleh pengetahuan.
Sumber: Teori Belajar dan Mengajar oleh Yana Wardhana halaman 33-39 tahun 2010

logoblog
Previous Post
Newer Post
Next Post
Older Post

Post a comment

Copyright © Manajemen Sekolah. All rights reserved.