Teori-Teori Belajar Kognitif

A. Teori Gestalt

Teori Gestalt termasuk pada kelompok aliran kognitif holistik. Teori Gestalt dikembangkan oleh Koffka, Kohler, dan Wertheimer. Teori ini berbeda dengan teori yang telah dijelaskan terdahulu. Menurut Gestalt, belajar adalah proses mengembangkan insight. Insight adalah pemahaman terhadap hubungan antarbagian dalam suatu situasi permasalahan.

Teori ini berbeda dengan teori behavioristik yang menganggap belajar atau tingkah laku itu bersifat makanistis sehingga mengabaikan atau mengingkari peranan insight. Teori Gestalt justru menganggap bahwa insight adalah inti dari pembentukan tingkah laku.

Uraian tentang teori belajar kognitif

Insight yang merupakan inti dari belajar menurut Gestalt mempunyai ciri-ciri, yaitu sebagai berikut.
  1. Kemampuan insight seseorang tergantung kepada kemampuan dasar orang tersebut. Kemampuan dasar tersebut tergantung pula pada usia dan posisi individu dalam kelompok.
  2. Insight dipengaruhi oleh pengalaman masa lalunya yang relevan.
  3. Insight dapat tergantung kepada pengaturan dan penyediaan lingkungannya.
  4. Pengertian merupakan inti dari insight.
  5. Apabila insight telah didapat, dapat digunakan untuk menghadapi persoalan dalam situasi lain.
B. Teori Medan 

Teori medan  dikembangkan oleh Kurt Lewin. Sama juga seperti teori Gestalt, teori medan menganggap bahwa belajar adalah suatu proses pemecahan masalah. Beberapa hal yang berkaitan dengan proses pemecahan masalah menurut Lewin dalam belajar adalah sebagai berikut.
  1. Belajar adalah perubahan  struktur kognitif setiap orang akan dapat memecahkan masalah jika ia bisa mengubah struktur kognitif. Permasalahan yang sering dijadikan contoh adalah sebagai berikut.  Ada sembilan buah titik. Hubungkan kesembilan buah titik tersebut dengan empat buah garis tanpa mengangkat tangan. Orang yang melihat sembilan buah titik sebagai sebuah bujur sangkar akan sulit memecahkan persoalan tersebut. Agar sembilan buah titik dapat dilewati oleh empat buah tarikan garis, kita harus mengubah struktur kognitif. Kesembilan buah titik tersebut bukan merupakan sebuah bujur sangkar.
  2. Pentingnya motivasi. Motivasi adalah faktor yang dapat mendorong individu untuk berperilaku. Motivasi muncul karena adanya daya tarik tertentu. Selain itu, motivasi itu jga bisa muncul karena pengalaman yang menyenangkan. Misalnya pengalaman kesuksesan seperti berhasil meraih rangking pertama di kelas. Siswa yang bersangkutan akan termotivasi untuk melakukan tindakan yang lebih baik. Sebaliknya, jika seorang gagal meraih sukses, ia akan merasa sedih, malu, dan tidak puas sehingga akan melemahkan motivasi untuk belajar.
C. Teori Konstruktivistik

Teori konstruktivistik dikembangkan oleh Piaget pada pertengahan abad ke-20. Piaget berpendapat bahwa pada dasarnya setiap individu sejak kecil sudah memiliki kemampuan untuk mengonstruksi pengetahuannya sendiri. Pengetahuan yang dikonstruksi oleh anak sebagai subjek akan menjadi pengetahuan yang bermakna . Sementara itu, pengetahuan yang hanya diperoleh melalui proses pemberitahuan tidak akan menjadi pengetahuan yang bermakna.

Pengetahuan tersebut hanya untuk diingat, tapi setelah itu akan dilupakan. Menurut Piaget, mengonstruksi dilakukan melalui proses asimilasi dan akomodasi terhadap skema yang ada. Skema terbentuk melalui proses pengalaman, sedangkan asimilasi adalah proses perubahan skema.

Menurut para ahli pendidikan yang lain, teori belajar didefinisikan sebagai berikut.

C.T Morgan dalam bukunya berjudul Introduction to Psychologi (1962) mengatakan, belajar adalah suatu perubahan yang relatif dalam menetapkan tingkah laku sebagai akibat atau hasil dari pengalaman masa lalu.

Menurut Thursam Hakim, elajar adalah suatu proses perubahan dalam kepribadian manusia. Perubahan tersebut diperlihatkan alam bentuk peningkatan kualitas dan kualitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya pikir, dan lain-lain. Hal tersebut dikemukakan dalam bukunya yang berjudul Belajar Secara Efektif (2002).

G.A. Kimble mengatakan bahwa belajar adalah perubahan yang relatif menetap dalam potensi tingka laku yang terjadi sebagai akibat dari latihan dengan penguatan. Tidak termasuk perubahan-perubahan karena kematangan, kelelahan, atau kerusakan pada susunan saraf. Dengan kata lain, belajar adalah mengetahui dan memahami sesuatu sehingga terjadi perubahan dalam diri seseorang yang belajar. (Lismawaty Simanjuntak, dkk. 1993).

Dari berbagai teori tersebut, dapat disimpulkan bahwa belajar pada intinya adalah "perubahan" sikap mental dalam diri seseorang setelah melakukan aktiitas tertentu. Dengan kata lain, perubahan yang terjadi adalah berupa pemahaman mengenai yang dilihat dan didengar sehingga terjadi perubahan sikap dan tingkah laku dari apa yang diterimanya kemudian diproses.

Selanjutnya, sehubungan dengan jenis belajar, harus dibedakan antara "belajar konsep" dengan "belajar proses". Belajar konsep lebih menekankan kepada hasil belajar yang berupa pemahaman faktual dan prinsipil terhadap bahan atau isi pelajaran yang bersifat kognitif. Sedangkan belajar proses atau keterampilan proses lebih ditekankan pada masalah bagaimana bahan pelajaran dipelajari dan diorganisasikan dengan tepat.

Namun demikian belajar konsep dengan keterampilan proses tidak dapat saling dipertentangkan sebagai dua jenis yang terpisah. Hal tersebut dikarenakan belajar konsep tidak mungkin terjadi tampa keterampilan proses pada diri siswa. Sebaliknya, proses belajar tidak mungkin terlaksana tanpa adanya materi yang dipelajari.

Sumber : Teori Belajar dan Mengajar oleh Yana Wardhana 





logoblog
Previous Post
Newer Post
Next Post
Older Post

Post a comment

Copyright © Manajemen Sekolah. All rights reserved.